Piala Dunia 2026 membuktikan kalau kompetisi yang digelar rutin 4 tahun sekali ini selalu bisa diandalkan untuk menghadirkan kejutan. Tahun ini, kejutan kembali terjadi ketika dua negara besar, Portugal dan Spanyol, bertemu dalam Piala Dunia 2026. Portugal mengusung harapan mereka untuk menang di seri tahun ini sebagai kado perpisahan untuk Cristiano Ronaldo. Sementara lawan mereka adalah timnas matador yang sudah dikenal lama karena kebuasannya. Meski Portugal sulit dihadapi karena Cristiano Ronaldo sendiri yang langsung turun tangan, Spanyol masih bisa membuktikan kalau mereka tidak bisa dipandang sebelah mata. Berkat gol tunggal dari Mikel Merino yang lahir di menit 90+1, Spanyol memastikan kalau mereka yang akan melaju ke babak berikutnya. Tapi sejauh ini, ada satu bintang mereka yang masih belum menarik perhatian secara signifikan. Kapan sebenarnya Lamine Yamal akan merebut perhatian global?
Diselamatkan oleh Mikel Meino
Penggemar Spanyol harus menyampaikan rasa terimakasih mereka kepada MIkel Merino. Penantian panjang penggemar untuk bisa melihat negara mereka terus melaju di Piala Dunia 2026 akhirnya terjawab. Gol tunggal yang dia cetak dalam pertandingan ini menyelamatkan timnas Spanyol dari rasa malu karena tak bisa berbuat apa-apa. Penantian panjang penggemar ini terjadi di Stadion AT&T ketika mereka bertanding melawan Portugal. Dari awal, penggemar sudah tahu kalau pertandingan ini tidak akan pernah berjalan dengan mudah. Tapi sang pemain Arsenal berhasil menjdi penyelamat merkea. Dia mencetak gol di emnit-menit terakhir sampai kemenangn mereka terkunci. Spanyol akhirnya dinyatakan menang tipis 1-0 atas Portugal dalam pertemuan mereka di babak 16 besar di Piala Dunia 2026.
Skuad Luis de la Fuente bermain dominan di sepanjang pertandingan. Mereka tampil mengendalikan sebagian besar pertandingan. Tapi justru alasan ini yang membuat penggemar mereka kecewa. Meski punya kendali yang besar, mereka gagal mengubahnya menjadi kesempatan untuk mencetak gol. Mikel Oyarzabal masih belum bisa menunjukkan kembali kemampuannya seperti yang dia lakukan saat mereka turun di babak 32 besar pada hari Senin yang lewat. Sementara pasangan Alex Baena dan Marc Cucurella di bagian gelandang kiri ternyata tidak terlalu efektif ketika dihadapkan pada juara Euro 2016.
Peran Kunci Rekan Lamine Yamal
Pada akhirnya, mereka harus bergantung pada kemampuan Mikel Merino. Keahliannya dalam membaca situasi dan memanfaatkan kelengahan Cristiano Ronaldo dkk. menjadi faktor penentu dalam pertandingan ini. Peran yang sama dia eksekusi di Arsenal. Peran yang sama juga dia tunjukkan ketika mereka bertanding melawan Jerman di Euro 2024. Waktu itu, gol yang dia cetak di menit ke-119 menjadi penentu mereka, mengamankan langkah negara ini untuk melaju ke fase perempat final.
Waktu itu, sebenarnya Lamine Yamal sempat berperan. Dia membantu Dani Olmo untuk mencetak gol mereka di pertandingan ini. Tapi peran dari gelandang tengah ini tidak terlalu menonjol di momen yang lain. Fenomena yang sama terjadi ketika mereka melawan Portugal dan faktanya juga sebagian besar di turnamen Piala Dunia 2026 tahun ini. Dengan pengulangan formula yang sama, publik dan terutama penggemar mereka mulai bertanya-tanya tentang apakah Piala Dunia tahun ini akan bisa memberikan kesempatan bagi Lamine Yamal untuk menunjukkan sinarnya.
Performa Lamine Yamal di Piala Dunia 2026
Tak perlu diragukan lagi, banyak yang mengharap kalau Lamine Yamal akan bisa bertanding sebagai skuad utama bayangan La Roja dalam pertandingan mereka melawan Cape Verde. Harapan publik didukung oleh gaya bermainnya yang langsung dan agresif. Dia membakar harapan penggemar mereka untuk percaya kepada tim ini setelah diterjunkan masuk di menit ke-71.
Memang waktu itu, skuad de la Fuente masih belum bisa benar-benar mengendalikan permainan Hiu Biru. Tapi keputusan untuk menggunakan bantuannya paling tidak patut untuk diapresiasi. Setelah sempat nyaris 2 bulan tak bermain di lapangan, keputusan untuk menggunakan bantuannya dipandang banyak orang bisa menghindarkan timnas matador untuk tidak terjerumus dalam permainan Cape Verde yang mematikan.
Jika 71 menit pertama pertandingan ini membuat banyak pengamat garuk-garuk kepala, kenaikan performa mereka setelah dia masuk jelas terlihat. Dengan menempatkannya di bagian samping, kecenderungan Spanyol untuk kembali memberikan umpan tanpa arah yang jelas langsung mereka hentikan. Tapi memang harus diakui juga kalau performanya tidak selamanya konsisten.
Memang kehadiran pemain berusia 18 tahun ini berarti kalau dia sering diincar oleh pemain lawan mereka. Spanyol mau tidak mau harus sering bermain dengan hanya 1 pemain yang bebas. Tapi keputusan ini paling tidak memberi ruang bagi pemain lain untuk bisa mencetak gol mereka termasuk melakukan asist. Tapi sayangnya fenomena ini tidak memberi ruang yang cukup bagi Lamine Yamal untuk membuktikan kalau dia juga bisa mencetak gol dan menyelamatkan nama mereka lebih baik dari rencana klub ini.
Memang, pemain muda ini tak selamanya mendapat kesempatan yang dia harapkan. Di turnamen ini, ada beberapa kali dia terlihat tertutupi kemampuand ari pemain lain yang bisa menunjukkan kemampuan yang lebih menentukan. Striker melebar ini melakukan lebih banyak tembakan dari pemain lain. Keteika melawan Arab Saudi, dia melakukan 5 tembakan. Angkanya melesat menjadi 6 tendangan ketika melawan Austria dan 3 kali saat melawan Portugal. Tapi hanya ada 1 tendangan yang benar-benar terkonversi menjadi gol.
Memang angka ini tidak tepat kalaul digunakan sebagai bahan kritik. Dia adalah seorang pemain remaja yang dikenal berkat kemampuan mengancamnya dengan kemampuan menggiring bola yang agresif. Tapi kontribusi yang belum signifikan membuatnya perlahan-lahan kehilangan kesempatan tampil. Sekarang dengan Spnayol menang atas Portugal, kegagalan Lamine Yamal untuk tampil menjadi sorotan penggemar. Banyak orang berharap kalau akan muncul situasi yang benar-benar bisa dia manfaatkan untuk membuktikan ada reputasi di balik namanya.
Kalau saja Lamine Yamal terus menerus melakukan tendangan tanpa benar-benar dikonversi menjadi gol dan tidak bisa melakukan asist, pemain berusia 18 tahun ini mungkin bisa menemukan alasan di balik kemampuannya yang merosot. La Roja memang punya kemampuan menyerang yang baik. Tapi skuad de la Fuente punya masalah di bagian belakang mereka, yang mengakar lebih dalam dari perkiraan mereka. Juara Piala Dunia 2010 ini memang belum pernah kebobolan gol dalam 5 pertandingan di Amerika Utara. Tapi Unai Simon sekarang harus mempersiapkan dirinya menghadapi perempat final melawan Belgia. Dia harus bersiap mempertahankan rekornya tak pernah kebobolan gol dalam 609 menit di Piala Dunia 2026.
Serangan memang menentukan kemenangan. Tapi pertahanan yang baik memenangkan kejuaraan. Kalau Spanyol terus melanjutkan keunggulan ini dengan mempertahankan lini terakhir mereka dengan solid, bagian depan mereka punya kesempatan. Mereka punya kualitas bermain yang unggul dari awal atau bangku pemain cadangan untuk menentukan hasil pertandingan.
