Minggu ke-34 Liga Primer Inggris akhirnya membawa kabar buruk yang harus dihadapi oleh Burnley. Ketika menghadapi Manchester City, mereka sudah tahu kalau pertandingan ini akan sulit. Peringkat yang terpisah jauh sudah memberi petunjuk dari awal kalau peluang mereka selamat dari pertandingan ini akan kecil. Kemunculan Erling Haaland dalam pertandingan ini seolah menegaskan hasil bahkan sebelum pertandingan berakhir. Pemain andalan Pep Guardiola ini memastikan nasib rival mereka dengan gol yang dia cetak di menit ke-5. Skor tetap bertahan 1-0 sampai menit terakhir pertandingan, memastikan niasb rivalnya. Sekarang perhatian penggemar mereka tertuju bukan hanya nasib tim ini yang harus kembali berjuang dari dasar Championship, tapi juga tentang pelatih mereka, Scott Parker.
Parker Enggan Beri Komentar
Pelatih kepala asal Burnley, Scott Parker, menolak untuk memberikan komentar lebih jauh tentang masa depannya. Topik ini menjadi salah satu bahan pertanyaan yang dilontarkan awak media kepadanya. Pertanyaan ini mereka sampaikan kepadanya setelah tim ini dipastikan tersingkir ke Championship. Hasil ini mereka dapatkan setelah hasil pertandingan pada hari Rabu malam yang lewat waktu setempat.
Nasib tim yang dia bela sempat tidak menunjukkan banyak perubahan. Dari sejak beberapa waktu yang lalu, banyak pengamat bahkan sampai beranggapan kalau nasib timnya tidak akan bergerak dari tersungkur ke Championship. Sekarang semua prediksi pengamat ini pada akhirnya terbukti. Berhadapan dengan Manchester City pada hari Rabu malam terbukti menjadi kesempatan terakhir mereka pada pertandingan ini. Gagal membalas gol tunggal pemain Cityzens membuat mereka harus kalah 0-1 dari pertandingan ini, sekaligus merelakan kesempatan untuk kembali bertanding di Liga Primer untuk musim yang akan datang.
Burnley Tunduk di Bawah City
Melawan Manchester City memang terbukti menjadi pertemuan yang terlalu sulit bagi mereka. Gol yang dicetak langsung oleh Erling Haaland di menit kelima menjadi gol pamungkas yang langsung menghentikan langkah mereka dalam kompetisi ini. Satu gol dari Manchester City menjadi pemutus nasib mereka, memastikan tim ini harus menyaksikan musim ini sebagai yang terakhir di Liga Primer. Di musim berikutnya, mereka harus kembali meniti jalan dari bawah, di Championship.
Hasil ini menjadi lanjutan dari mimpi buruk Burnley. Tahun ini bukan menjadi satu-satunya mereka tersingkir dari Liga Primer. Kalau melihat catatan mereka, kali ini menjadi yang ketiga kali mereka tersingkir dalam 3 musim Liga Primer. Hasil semacam ini tentu menjadi alarm serius bagi tim ini. Mendapatkan promosi ke Liga Primer adalah mimpi besar semua tim yang berasal dari kasta kedua. Tapi tersingkir sebanyak 3 kali dari kejuaraan yang mereka incar jelas menjadi PR serius yang harus segera mereka selesaikan.
Tentang Masa Depan di Burnley
Hasil buruk yang didapatkan Burnley mendatangkan pertanyaan penting tentang situasi sebenarnya yang dihadapi oleh tim ini. Banyak penggemar menyuarakan kritik mereka karena menganggap petinggi tim tak bisa berbuat banyak. Padahal situasi yang mereka hadapi sekarang jelas menunjukkan kalau tim ini punya masalah besar yang harus segera mereka selesaikan ke akarnya. Yang terpampang di depan merkea saat ini adalah kondisi ketika petinggi tim seolah masih tidak bisa bergerak dari Parker. Padahal mereka juga sadar kalau tim ini hanya pernah menang 1 kali dalam 25 pertandingan yang mereka jalani di Liga Primer. Sisanjya ada 17 pertandingan yang harus mereka relakan dan 7 pertandingan lainnya berakhir dengan imbang.
Tersingkir dari Liga Primer menyediakan satu pertanyaan besar di benak penggemar. Semua orang sekarang sedang bertanya-tanya apakah Parker akan tetap mendapat kesempatan untuk melanjutkan tugasnya. Pelatih berusia 45 tahun ini langsung menjadi target dari pertanyaa media tentang topik ini. Tapi dia tidak bersedia memberi jawaban definitif ketika diminta tanggapannya tentang kemungkinan nasib yang akan menantinya.
Setelah kalah dari Guardiola, pelatih Burnley ini hanya mengatakan kalau seperti yang lain, dia sedang beraktivitas di atas treadmill. Dia mengungkap kalau saat ini, dia harus menghadapi kenyataan kalau dia masih berjalan di atas treadmill dan terikat dengan aktivitas ini. Dia dan semua pemain mereka masih terus berusaha untuk bisa mendapatkan hasil terbaik. Dari sudut pandangnya, mereka harus terus berusaha untuk bisa mengerahkan kemampuan terbaik di saat-saat sulit seperti ini. Dia menekankan kalau mereka harus terus belajar dari kesalahan mereka di tahun ini dan berkembang lebih baik.
Tentang dirinya, dia menyebut kalau mereka telah mengerahkan semua kemampuan terbaik. Mereka telah berkorban dan menghadapi hal-hal sulit. Dia menyebut kalau dirinya layak bertanggung jawab untuk situasi dan posisi yang mereka hadapi seperti sekarang. Tapi dia memilih untuk tidak berdiam diri. Dia memilih untuk terus mengarahkan timnya untuk bangkit dan terus bergerak. Dia menekankan juga kalau saat ini, yang paling penting adalah belajar dari perjalanan mereka di musim ini. Semua orang di klub harus mencari cara untuk belajar dari kesalahan dan bangkit. Prioritas utama mereka saat ini adalah belajar dari pertandingan terakhir dan menetapkan prioritas untuk berkembang.
Setelah kalah dari Manchester City, sekarang Burnley bergabung dengan Wolverhampton Wanderers sebagai tim penghuni zona degradasi. Dua tim ini sudah lama diprediksi akan menjadi penghuni dari zona mematikan ini. Tapi sekarang dua tim ini akan kembali bersaing untuk paling tidak bisa terhindar dari rasa malu harus menanggung peringkat 18. Saat ini peringkat ini sedang ditanggung oleh Tottenham Hotspur. Posisi ini jadi yang terburuk bagi mereka. Di saat bersamaan, Spurs juga sedang berusaha keras untuk bisa terhindar ke Championship, yang akan menjadi yang pertama bagi mereka sejak musim 1976/77. Spurs saat ini sedang terpisah 2 poin dari West Ham United dan 5 poin dari Nottingham Forest. Masih ada 5 pertandingan yang bisa mereka manfaatkan untuk mengejar tambahan poin. Tapi sekali lagi ini akan menjadi tugas yang sulit.
Sementara itu, Leeds United saat ini sedang berada di titik nadir setelah mereka bergerak mengumpulkan 40 poin. Akumulasi poin ini mereka dapatkan setelah bertanding melawan Bournemouth di hari Rabu. Di akhir pertandingan, mereka hanya bisa menahan imbang lawannya dengan 2-2.
